Menuntut ilmu wajib bagi muslim, laki-laki dan perempuan….


Seringkali kita mendengar bahwa pendidikan merupakan unsur terpenting dalam pembangunan sebuah komunitas, atau negara. Hal senada sebenarnya ditekankan juga oleh syariat kita, utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi (Tuntulah ilmu sejak dini hingga mati, mulai dari ayunan sampai pasungan, ti mimiti di eyong nepi ka disedong dalam bahasa sunda…), lebih jauh lagi, tolabul ilmi fariidotun ‘ala kulli muslimin wa muslimat (menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan), dan banyak lagi.

Sekali lagi wajib! Nah, dengan statusnya yang wajib, maka jelaslah konsekuensinya, berdosa jika tidak ditinggalkan dan berpahala jika dilaksanakan. Sudahkah kita melaksanakannya? Menuntut ilmu? Untuk menjawab pertanyaan trivial tersebut – trivial karena kita pasti akan menjawabnya ‘ya’ karena kita memang, setidaknya, sudah mengenyam pendidikan di sekolah – perlu diklarifikasi lebih lanjut; ilmu apa?

Hal tersebut sangat perlu diperjelas, mengingat status hukumnya yang strict, wajib. Apakah ilmu alam, ilmu sosial, ilmu agama, atau apa? Ulama memberi beberapa keterangan tentang hal tersebut, diantaranya bahwa:

  • Setiap insan harus menuntut ilmu, apapun ilmunya – tentu saja yang dibenarkan oleh syara’.
  • Fardu ‘ain hukum mempelajarinya ilmu yang diperlukan oleh setiap pribadi, dan fardu kifayah untuk ilmu yang diperlukan oleh suatu komunitas.

Ilmu-ilmu yg fardu ‘ain diketahui adalah :

1. Ilmu tentang ke-Esa-an Allah (keimanan), krn iman HARUS dg ilmu, tidak bisa taqlid

2. Ilmu yg berkaitan dg kewajiban kita kpd Allah; sholat, dll

3. Ilmu yg berkaitan dengan pekerjaan yg akan kita kerjakan

  • Lebih jelas lagi, wajib hukumnya mengetahui ilmu dari apa yang (wajib dan sedang) kita kerjakan.

Yang ingin saya tekankan adalah butir kedua dan ketiga. Point kedua berarti kita wajib ‘ain mempelajari ilmu, setidaknya, ilmu aktivitas harian yang kita lakukan. Setiap hari kita tidur, makan, shalat, bersuci, dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut wajib kita ketahui ilmunya, karena memang sangat logis bahwa setiap langkah kita harus disertai ilmu. Sangat bodoh, menurut logika, jika beramal tanpa ilmu karena itu sia-sia, atau bahkan bisa jadi berbahaya. Sebagai contoh, jika seseorang bereksperimen dengan uranium tanpa ilmu yang memadai, maka tunggulah saat kehancurannya. Ini tidak hanya sia-sia, tapi malah berbahaya baik bagi pribadi maupun orang lain.

Begitu juga dalam hal ibadah. Kaidah agama menyebutkan la ‘amala lima la ‘ilma lah, yang berarti tidak termasuk amal kebaikan jika tidak ada pengetahuan tentangnya, atau setidaknya mengetahui bahwa hal tersebut adalah ibadah. Sama artinya bahwa tidak termasuk ibadah tanpa berniat. Setiap kali makan adalah ibadah jika kita menyadari bahwa makan itu merupakan hak tubuh kita untuk memperoleh energi yang diperlukan untuk dapat melaksanakan ibadah kepada-Nya. Bahwa tubuh ini adalah amanah yang wajib kita pelihara, dan lain sebagainya. Sangat besar faidahnya menggosok gigi (bersiwak), hanya jika kita tahu bahwa itu adalah ibadah. Diantaranya adalah, selain untuk menjaga kesehatan, shalat didahului bersiwak adalah lima puluh kali lebih baik daripada tidak disertai bersiwak. Hal tersebut sebenarnya sudah dicontohkan oleh orang tua kita dulu, mereka bersiwak sebelum shalat – dan banyak aktivitas sunat lainnya. Namun sayangnya kita mengabaikannya, bahkan sebagian mem’fatwa’kannya bid’ah dlalalah, hanya karena kebodohan kita akan hal tersebut.

Fardu kifayah untuk hal yang bersifat perwakilan, dapat dilakukan oleh salah seorang diantara kita. Dalam shalat kita perlu pakaian sebagai syarat untuk menutup aurat, maka fardu kifayah hukumnya (bagi umat islam) untuk dapat membuat pakaian – lebih jauh lagi, mulai dari proses membuat benang sampai menjahitnya. Tidak setiap individu wajib bisa melakukannya, cukup beberapa orang saja.

(Disini lah pentingnya umat islam agar mempunyai pengetahuan tentang hal-hal duniawi; teknologi, politik, ekonomi, dll. yaitu untuk melakukan kewajiban kifayah, sehingga dapat meleburkan dosa jamaah. Toh ternyata umat islam sendiri tidak hidup dalam kegiatan ibadah saja, kita membaur dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dll dengan umat lain, sehingga wajib kifayah bagi kita untuk menguasai bidang tersebut)

Selain itu, point ketiga menambahkan dimensi waktu pada ketentuan yang ada. Singkat kata, sudah sewajarnya, kita wajib mengetahui ilmu dari setiap aktivitas yang wajib dan sedang kita lakukan. Kita tidak wajib mengetahui ilmu shalat dalam perjalanan, jika kita tidak sedang bepergian. Namun, wajib mengetahuinya jika kita sedang dalam perjalanan. Karena memang kapanpun dan dimanapun kewajiban shalat tetap berlaku. Maka berdosalah hukumnya jika bepergian (jauh) tanpa mengetahui ilmu shalat dalam perjalanan. Begitu juga dengan haji, tidak wajib mengetahui ilmunya sekarang, namun wajib ketika kita sedang (akan) berhaji. Jadi, semua rutinitas wajib – wudlu, shalat, bersuci, puasa, dll – wajib kita mengetahui ilmunya[1]. Sedia payung sebelum hujan, maka lebih baik dipelajari sekarang sebelum datang saatnya. Namun, berbahagialah bagi yang sedang mempelajarinya, karena salah satu keutamaan orang yang menuntut ilmu adalah dimaafkan dari apa-apa yang belum diketahuinya. Oleh karena itu, mari kita terus belajar menyempurnakan ibadah kita, mulai dari syarat dan rukunnya hingga nafilah-nafilah (sunat) nya.

Namun demikian, ini bukan berarti bahwa kita hanya perlu menuntut ilmu agama saja – mengingat banyak hal yang wajib merupakan amaliah ubudiah. Teringat pertanyaan teman saya, mengapa tidak belajar ilmu agama saja? Kita memang perlu (wajib) mengetahui ilmu agama, minimal apa yang telah diuraikan diatas. Disamping itu, kita perlu juga mensyukuri nikmat atas apa yang diberikan, termasuk nikmat akal dengan memanfaatkannya untuk bertafakur seoptimal mungkin. Kenapa tidak memfokuskan pada ilmu agama? Jawaban saya: kita perlu lebih banyak orang pintar yang shaleh dan orang shaleh yang pintar dalam rangka menegakkan syiar agama.

Inilah salah satu hal yang mendorong saya untuk mengingat apa yang telah dipelajari dahulu dan menuliskannya dalam artikel ini. Di suatu saat saya menyadari, ketika harus berkereta selama 15 jam, bahwa masih banyak orang yang tidak mengetahui hal ini. Masih banyak orang yang tidak shalat karena tidak mengerti ilmu tayamum dan shalat fi safar.

Lilin memang tidak seberapa terang, namun akan sangat terasa manfaatnya ketika hanya itulah satu-satunya yang kita punya dalam kegelapan. Tanpa berniat menggurui, hanya menyampaikan apa yang pernah diajarkan guru-guru saya. Mudah-mudahan ini menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua, yang menyinari kita di dalam kegelapan dan kesunyian kubur. Amiin.

Eindhoven, Jumat 6 November 2008

Al muta’allim,

M. Islahuddin

(Editor: Umar Faruq)


[1] Dalam istilah pesantren, biasa disebut ilmu tingkah – atau fiqh. Disamping itu, ada ilmu tauhid, tasawuf, alat, dll.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s