Re-thinking ! Seputar Pendidikan/Beasiswa


Re-thinking ! Seputar Pendidikan/Beasiswa

 

Anda sedang mencari beasiswa untuk melanjutkan studi? Keep fighting!!! Cari terus…. Sekedar berbagi pengalaman, berikut saya coba uraikan sedikit ‘cerita’.

Pre-planning

Pertama ada baiknya jika kita merenungkan kembali niat kita dan juga tanyakan kembali ke arah mana kita akan melangkah dan dimana kita akan bermuara. Ini penting, bahkan sangat penting sekali! Kenapa? Karena “Barangsiapa cemerlang di permulaan, cemerlang dia di sisa perjalanannya. Dan barangsiapa sukar di permulaan, sukarlah dia di sisa perjalanannya!”. Itulah apa yang dikatakan pepatah Arab yang disimak dari tausiah al mukarrom K.H. M. Syakur Chudlori [1], pimpinan Ponpes Muawanah Tasikmalaya, ketika mendorong ahli pengajian untuk selalu mempersiapkan masa depan putra-putrinya sedini dan sebaik mungkin. Sebenarnya hal tersebut secara tidak sadar telah kita ketahui sejak masih duduk di kursi sekolah dasar dengan melihat teman-teman sekelas kita. Kita dapati bahwa siswa yang sejak awal sudah bisa berprestasi, di Indonesia identik dengan ranking, maka selanjutnya orang-orang tersebut kembali masuk ranking –dengan nilai variansi yang kecil. Sementara siswa yang tidak ketinggalan, tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik sejak awal, maka begitulah seterusnya bahkan menimbulkan efek negatif dengan berprilaku ‘nakal’ sebagai demonstrasi natural untuk menarik perhatian guru dan untuk menunjukkan eksistensi mereka – pembahasan masalah ini dicukupkan sekian, perlu satu tulisan khusus untuk membahasnya. Hal ini berlaku bagi setiap orang ketika memasuki satu tahapan baru untuk selalu me-recheck setiap langkah yang ditempuh. Banyak atau mungkin kebanyakan orang berorientasi pada kesuksesan material dan karir yang memang merupakan ‘default’ kecenderungan setiap orang. Tapi mari kita renungkan kembali, itukah yang ‘benar-benar’ kita inginkan? Saya jawab tidak! Bukan itu! Hidup ini hanya sementara, ulama mengibaratkan hidup ini ibarat penjara atau pun pengembaraan. Kita diwajibkan ini dan itu, juga diharamkan ini dan itu. Disunatkan ini dan itu, dimakruhkan ini dan itu. Tidak lain sebagai ujian untuk menjadi ‘khairun naas’, manusia terbaik. Adakah yang berfikir itu ‘bulshiiiit’? Saya kira sebaliknya. Berapa banyak harta yang kita butuhkan? Berapa banyak makanan yang dapat kita makan? Berapa banyak kendaraan yang kita inginkan? Tidak banyak ! Kita hanya butuh seperlunya atau setidaknya sebanyak yang dapat kita tampung. Mengingat kita adalah makhluk (yang diciptakan) maka terbataslah kemampuan kita dan ingat! waktu kita dibatasi kematian! Maka jelaslah, bagi saya, jadilah yang terbaik dengan menjadi manusia yang paling bermanfaat dengan tetap berada di jalan-Nya, karena pasti  akan kembali kepada-Nya. Dan itu bukan berarti bahwa kita tidak boleh ingin kaya dan sukses berkarir, karena kita sedang membahas hal yang lebih fundamental. Mari sebut tahap ini sebagai pre-planning atau pra perencanaan.

Planning

Selanjutnya adalah planning, perencanaan. Saatnya kita menjabarkan apa yang telah kita tentukan sebelumnya di tahap pre-planning. Sangat penting untuk selalu memperhatikan minat dan bakat masing-masing kita, mengingat kita dianugerahi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semua sama, satu sisi kita lebih dari yang lain, di sisi lain kurang. Tinggal pintar-pintarnya kita memahami dan memanfaatkannya.

Semua insan sama, dihadapan Tuhannya

Tiada yang membedakan diantara dirinya

Namun yang paling mulya, manusia disisi Allah

Adalah manusia  yang bertaqwa pada-Nya (Hawari)

Sekarang kita bisa merencanakan, bercita-cita untuk menjadi seseorang yang bermanfaat dengan berperan apakah sebagai akademisi, politisi, ulama, seniman, ekonom ataupun pedagang. Tidak ada pekerjaan yang hina selama tidak melanggar norma-norma yang berlaku apalagi jika dilakukan dengan niat ikhlas dalam rangka membantu sesama dan mencari nafkah yang halal.

Lebih jauh lagi, perlu direncanakan secara lebih detail berbasis waktu. Kapan harus mencapai apa? Serta bagaimana cara untuk mencapainya. Terkadang kita perlu mengambil jalan memutar untuk mencapai tujuan, dan perlu menyusun strategi sukses dengan mendefinisikan langkah demi langkah yang harus ditempuh.

Fokus & Konsisten

Go straight ahead!! Setelah mantap dengan (pre)planning, just do it!! Tetap fokus dan konsisten menjalaninya…. Terdengar sederhana dan mudah, namun kenyataannya terkadang, bagi sebagian orang, begitu sulit untuk tetap berada di jalan yang ‘benar’…. Ketika realita kehidupan menghadang, ketika tanggung jawab tertumpuk di pundak, ceritanya bisa berbeda. Namun, selalu ada jalan keluar. “Sungguh, setelah kesulitan ada kemudahan!” All we have to do is just keep fighting, and be focus! Ceuk urang Pasundan mah, “Mun kéyéng tangtu paréng” atau “Man jadda, wajada” menurut pepatah Arab – artinya “barangsiapa sungguh-sungguh, pasti berhasil”. Sing Keukeuh!

Tawakal, keep praying

Tidak setiap usaha pasti berhasil. Tidak semua pedagang bisa untung. Tidak semua siswa dapat memahami pelajaran. Meskipun segenap usaha telah dikerahka…

to be continued…

 



[1] Beliau aktif mengajar di IAIN SGD Bandung sebagai dosen senior bidang ilmu Falak, juga sebagai tim Hisab Ru’yat Jawa Barat, ketua Lajnah Falakiyah PWNU Jabar serta tim ahli Lajnah Falakiyah PBNU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s