Sampai saat ini, penerima beasiswa Erasmus Mundus asal Indonesia untuk tahun 2010 masih berjumlah 37 orang, dan masih mungkin bertambah jika ada yang naik posisinya dari reserve list ke main list. Dengan jumlah ini, Indonesia bercokol di tempat ke-13 dalam daftar penerima beasiswa terbanyak di seluruh dunia yang dipimpin oleh Cina dengan 133 awardee, jauh mengungguli India di tempat ke-2 dengan jumlah penerima 89 orang.

IndoEM 2008

Pada tahun 2009 Indonesia menerima 55 beasiswa dan masuk 10 besar negara-negara penerima beasiswa. Sementara pada tahun sebelumnya, 2008, tidak kurang dari 65 mahasiswa dan 2 akademisi penerima beasiswa ini berasal dari Indonesia yang juga masuk dalam daftar 10 besar.

Para penerima beasiswa dari Indonesia beserta seluruh alumninya, yang tergabung dalam ‘IndoEM’, sebenarnya terus berusaha untuk meningkatkan jumlah awardee dari Indonesia setiap tahunnya. Mereka terus berupaya menyebarluaskan informasi dan mempromosikan beasiswa ini kepada seluruh masyarakat, baik melalui road show dari kampus ke kampus maupun diskusi secara online. Mereka yakin, sebenarnya masih lebih banyak pelajar kita yang layak mendapatkan beasiswa ini. Hanya saja, informasinya masih perlu lebih disebarluaskan dan juga faktor motivasi yang masih perlu ditingkatkan.

Beasiswa Erasmus Mundus (EM) sendiri merupakan beasiswa yang diberikan oleh komisi Uni Eropa kepada hampir semua negara di dunia untuk bersekolah master dan doktor di beberapa negara di Eropa. Untuk tahun 2010, terdapat 116 Erasmus Mundus Masters Courses (EMMCs) yang menawarkan program studi master (s2) yang terdiri dari berbagai macam bidang ilmu, tidak hanya teknologi dan sains murni. Tidak hanya itu, Uni Eropa juga menyediakan 13 Erasmus Mundus Joint Doctorates yang baru dimulai tahun ini. Jadi silahkan cek program apa saja yang tersedia, siapa tahu anda berminat dan menjadi awardee berikutnya!

Bagi anda yang berminat untuk mendapatkan beasiswa EM ini, baik fresh graduate maupun yang sudah bekerja, silahkan dapatkan informasinya dan berdiskusi di: http://emundus.wordpress.com/. Web ini dimoderasi langsung oleh alumni EM dalam rangka memfasilitasi dan meningkatkan jumlah awardee dari Indonesia dari tahun ke tahun, semoga saja! Data selengkapnya juga dapat anda lihat di web tersebut.

Ayo daftar! semoga Anda lah awardee berikutnya!

Sosonoan…: Kacapi Suling

February 26, 2010

‘Kacapi Suling’ is originally from West Java, Indonesia. I really like it because it sounds very peaceful to me. It helps me to relieve the stress, so please enjoy it.

credit to: ‘aqusbelgique’ on Youtube

Sosonoan…: Rampak Kendang

February 26, 2010

‘Rampak Kendang’ is an Indonesian traditional performance using ‘Kendang’ as the main instrument and played together in a group (‘Rampak’). It is originally from West Java and the ethnic group living there is ‘Sunda’. This kind of performance can also be found in other place in Indonesia, namely ‘Jawa’ (Java) and ‘Bali’, but in different manner. Please enjoy the show! and take a visit to its original place.

credit to: ’25sofyan’ on Youtube

Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Sering kita terperangkap pada suatu perbuatan negatif, sia-sia, tidak berguna, membuang-buang waktu, atau malah perbuatan dosa. Dari hati yang paling dalam, selalu ada getaran keinginan untuk menghentikan semua kebodohan tersebut. Namun apa daya, godaan setan sudah sedemikian meradang dalam diri membakar nafsu durjana sehingga sangat sulit untuk lepas darinya. Bisiknya, “nanti saja..! sekarang nikmati aja apa yang ada, mumpung tidak ada yang melihat.. toh masih ada waktu besok!”. ‘ngangen-ngangen’ kalau dalam bahasa Sunda, “engke…! engke…!”, namun ‘nanti’ tersebut tak kunjung tiba. (ngangen-ngangen = angan-angan belaka, engke = nanti)

Alhasil, kejadian serupa terulang dan terus terulang meskipun sempat diselingi dengan kebaikan, namun kerap kali diulangi yang berakhir penyesalan. Itulah akal-akalan setan yang menarik kita selangkah demi selangkah pada api neraka. Sampai pada akhirnya, berani melakukan keburukan terang-terangan, tidak lagi merasa berdosa, hingga berani meninggalkan kewajiban.

Hentikan! SEKARANG! kalau tidak sekarang, kapan lagi? siapa tahu maut menatap didepan mata, siap menerkam hamba Tuhan yang sedang berbuat dosa, ‘suul khatimah’… na’udzubillah….

Kita bisa coba dengan mengalihkan perhatian pada hal-hal yang baik, atau yang mubah (dibolehkan) sekalipun tidak masalah, seperti tidur atau mungkin jalan-jalan.

Disini kita menjadi saksi bahwa benar: “al imanu yajidu wa yanqusu, yajidu bit tha’ah wa yanqusu bil ma’siah”, yang berarti “iman itu bisa bertambah dan berkurang, bertambah kuat dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan melakukan maksiat”. Oleh karena itu, sangat perlu bagi kita untuk selalu memelihara iman ini dengan melakukan taat dan menjauhi maksiat… ikut dalam majelis ilmu adalah salah satu langkah tepat untuk tetap selalu mengingatkan kita akan hal tersebut.

Semoga Alloh menyertakan taufiq seiring hidayah-Nya, sehingga kita tahu dan mampu melaksanakan amanah-Nya.. Amin.

Sosok Cantik Negeri Kokain…

Bertambah lagi pelajaran ku hari ini… kutemui sesosok wanita cantik nan ayu (cantik doank denk :) ). Kolombia negeri asalnya. Dia bagitu cantik, periang dan sangat ekstrovert yang banyak bicara (tapi tidak didalam kelas).

Kami berada dalam satu kelas yang sama dibeberapa kuliah semester ini. Dia selalu menolak untuk ditanya oleh dosen saat kuliah berlangsung, she said “don’t me, please.. don’t me!”…. Oh, wajar saja baru pertama kali ini dia bergulat dengan yang namanya vektor, topology, himpunan dan kawan2nya dalam dunia permatematikaan. Mengejutkan! S1 nya adalah biomedical engineering di Kolombia sana selama 5 tahun. Wow! Sungguh beraninya dia mengambil s2 matematika! Kami2 saja yang ‘matematikawan’ merasa kewalahan menghadapi kuliah semester ini, dengan banyak nya mata kuliah yang harus diambil beserta anak2nya yang bernama tugas, final exercise, written exam dan oral exam… wiiuuhhh… dia harus lebih bekerja keras dari kami2….

Tak asing lagi kalau orang Belanda (termasuk akademisi) selalu ada pesta, setidaknya sekali seminggu dengan menu yang sama… bir! mereka mabuk2n sekali seminggu… how stupid they are!! kami anak2 international student pun di undang untuk datang stp minggunya. Tentu saja saya bersama anak2 asia lainnya tidak ikut acara tsb, hanya seorang anak India dan teman2 dari Rusia, Belarusia dan tambah satu cewek cantik Kolombia!

Di hari pertama kami kuliah setiap minggunya, meraka selalu menertawakan satu sama lain mendengar cerita bodohnya tingkah mereka ketika mabuk. Yang paling seru adalah ketika sang pemabuk pulang dengan sepeda barunya yang berlabel universitas di larut malam dan dia terjatuh! saking mabuknya… sehingga sekarang dia harus berjalan kaki karena sepedanya rusak berat…. Hal yang sama juga dialami sang cewek cantik itu, dia terjatuh ketika pulang diantar seorang Belanda yang menaksirnya sejak introduction week. Dia sama sekali tidak sadar kalau semalam dia terjatuh dari sepeda saat dibonceng sang arjuna. Dia hanya mendapati sebuah luka diwajahnya dipagi harinya. Pagi hari yang ceria! Itulah moment pertama kami bertemu setiap minggunya, saling menertawakan cerita bodoh saat weekend.

Masa satu semester telah berlalu, saatnya ujian…final exercises, oral exams dan written exams. Diminggu ujian ini, 3 minggu, kami harus mengerjakan 4 final exercise, 4 oral exam dan 2 written exam… sungguh sibuk, benar2 sibuk…. Saya yakin setiap kami, belajar setiap hari dari pagi hingga larut malam, itulah yang saya dapati, mereka whole day belajar selama satu semester ini… hebat! bahkan dimulai intensif belajar 2 minggu sebelum exam weeks, yaitu saat libur natal dan tahun baru.

….

Tidak seperti biasanya, belajar di central library, suatu ketika saya belajar di perpustakaan matematika di main building lt.6. Hey!! Saya ketemu si dia… sang cewek yang sedang kita bicarakan! catatan, buku, lecturer notes berserakan di mejanya. Wonderful! itulah gumamku saat melihat dia belajar dan membuat mind mapping untuk memahami the whole idea of the lecture, begitu katanya… tak hanya itu, dia mengerjakan seluruh soal latihan yang diberikan saat kuliah, berjumlah 15 exercise * 5 soal yang kira2 harus dikerjakan seharian setiap exercise set nya. Huuhh.. seseorang yang tidak kenal sama sekali dengan open set sekalipun sebelumnya… rupanya, selama ini dia selalu belajar seharian di tempat ini seminggu penuh, dan weekend nya dia habiskan untuk jalan2 dan biasa.. pesta!

Mungkin sekarang dia, sang pendatang baru, lebih memahami materi kuliah daripada saya…. sungguh luar biasa!! Saya heran, salut dan wonderful tiada terkira… Bahkan dia lulus mata kuliah terberat saat ini, Applied Functional Analysis! Bayangkan…dia harus langsung berhadapan dengan Banach space, Hilbert dan Sobolev space! Padahal hanya 1/3 nya yang lulus, dan dia salah satunya! Dia saja bisa, kenapa kita tidak!

Bertambah satu lagi pengalamanku… dia patut ditiru… tentu bukan soal mabuk2nnya…

So, anyone here is great! but me? I wish so…I’m trying…. I do my best!

Eindhoven, 12 Januari 2009

Sakit, bagian dari nikmat-Nya….

Seringkali kita mengeluh saat sakit datang menyapa. Terlebih saat banyak hal yang perlu dilakukan – tugas, paper, belajar, proyek, dll – seolah tiada harapan lagi untuk mengejarnya. Benar memang, karena sakit, kita mesti berdiam diri secara paksa, banyak istirahat, tidak bisa melakukan apa-apa.

Namun suatu ketika, Alhamdulillah, saya ingat…. Bahwa ternyata ia merupakan bagian dari nikmat-Nya. Banyak faedah yang dapat kita peroleh darinya. Bagaimana tidak! Disaat sakit tersebut, kita benar-benar merasakan kelemahan diri ini, tak berdaya. Lantas siapa kah diri kita kemarin, yang merasa penuh kuasa, penuh semangat, tanpa sedikit pun ingat akan Kuasa-Nya, lupa diri…. Bahwa atas Kuasa-Nya lah, diri ini kuasa melakukan sesuatu, atas izin-Nya lah kita bisa berkarya.

Dikala itu juga, diri ini dibawa ke alam perenungan. Ingat akan suatu masa berakhirnya hayat ini, akhir segala amal. Bekal apa yang telah dimiliki? Hanya ibadah yang kian hari tidak bertambah baik, dosa yang kian hari kian bertambah…. Astaghfirullaah hal ‘Adziim..lii wa liwaalidayya….

Maka saat itu pula, diri ini dibawa mendekat ke hadirat-Nya, hari demi hari diisi dengan dzikir dan tahmid, istigfar dan tahlil seraya terbaring memohon. Maka yakin benar apa yang telah diwasiatkan Rasul dan ulama untuk menjenguk orang yang sakit, doakan dan minta doa darinya, karena doanya adalah mustajab serta kumpulannya adalah kumpulan rahmat. Selain itu, sakit menghapus dosa-dosa kita, sebagai balasan atas kesabaran selama sakit tersebut.

Eindhoven, 2 Muharram 1430H/ 30 Des 2008M

M. Islahuddin

Payahnya menjauhi makanan haram, dan subhat[1]…. di perantauan

Esensi halal-haram suatu makanan tidak hanya terletak pada status halal dan haramnya – yang jelas berdosa jika memakan makanan haram – tetapi juga pada efek yang ditimbulkan makanan tersebut. Mulai dari efek kesehatan jasmani dan rohani sampai pada konsekuesi ubudiyah yang tidak diterima selama 40 hari 40 malam. Babi [2]dan hewan yang disembelih tidak sesuai syariat Islam jelas haram hukumnya karena memang secara ilmiah daging babi tersebut tidak sehat[3], bahkan dikatakan sebagai sarang berbagai penyakit/kuman (mixing vessel). Hewan yang tidak disembelih juga tidak sehat sebagai akibat dari tidak dapat dikerluarkannya darah dan kuman dari hewan tersebut – ingat bahwa darah juga diharamkan Islam.

Tidak sampai disitu,tidak hanya jelas status halal-haramnya tetapi ingat juga konsekuensi dari kedua hukum tersebut. Jika kita berbicara tentang dosa maka mesti kita bayangkan DAHSYATnya siksaan di akhirat sana, dan sebaliknya dengan pahala yang dibalas dengan kenikmatan surgawi. Apalah artinya kenikmatan sesaat memakan makanan haram jika kemudian harus menanggung konsekuensi yang demikian besar. Itu hanya nafsu sesaat…! hindarilah sekuat tenaga!

Selain itu selalu ada efek psikologis dari hal-hal yang diharamkan. Jika apa-apa yang kita makan baik, maka baiklah jiwa raga kita dan insya Allah akan selalu terdorong akan hal yang baik-baik. Namun sebaliknya, jika yang dimakan adalah tidak baik (haram) maka akan cenderung mudah untuk melakukan perkara yang tidak baik. Mengapa demikian? Karena energi yang ada dalam tubuh kita, dan tubuh itu sendiri, mengandung hal yang tidak baik sehingga menjadi sangat mudah bagi syetan untuk menggerakkannya. Oleh karena itu , mari kita hindari hal-hal yang tidak baik dan haram, termasuk dalam hal ini adalah makanan. Terlebih lagi, hindarkan anak-anak dari hal-hal jelek tersebut.

Pentingnya menjaga diri dari hal-hal yang haram dapat kita lihat dari kehati-hatian para ulama, sehingga memfatwakan untuk menjauhi perkara yang subhat sekalipun. Karena memang kita harus menghindari dari hal-hal yang meragukan, sebagaimana akan suatu hadis yang sudah kita mafhumi bersama.

Dengan demikian jelaslah benar bahwa memang Islam menghalalkan yang baik-baik[4].

M. Islahuddin


[1] tidak jelas status hukumnya karena berbagai hal seperti tidak diketahui asal-usulnya

[2] Yang diharamkan diantaranya terdapat pada: Qs.2:173, Qs.2:219 , Qs.5:3, Qs.6:145

[4] Qs. 5:4

Seringkali kita mendengar bahwa pendidikan merupakan unsur terpenting dalam pembangunan sebuah komunitas, atau negara. Hal senada sebenarnya ditekankan juga oleh syariat kita, utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi (Tuntulah ilmu sejak dini hingga mati, mulai dari ayunan sampai pasungan, ti mimiti di eyong nepi ka disedong dalam bahasa sunda…), lebih jauh lagi, tolabul ilmi fariidotun ‘ala kulli muslimin wa muslimat (menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan), dan banyak lagi.

Sekali lagi wajib! Nah, dengan statusnya yang wajib, maka jelaslah konsekuensinya, berdosa jika tidak ditinggalkan dan berpahala jika dilaksanakan. Sudahkah kita melaksanakannya? Menuntut ilmu? Untuk menjawab pertanyaan trivial tersebut – trivial karena kita pasti akan menjawabnya ‘ya’ karena kita memang, setidaknya, sudah mengenyam pendidikan di sekolah – perlu diklarifikasi lebih lanjut; ilmu apa?

Hal tersebut sangat perlu diperjelas, mengingat status hukumnya yang strict, wajib. Apakah ilmu alam, ilmu sosial, ilmu agama, atau apa? Ulama memberi beberapa keterangan tentang hal tersebut, diantaranya bahwa:

  • Setiap insan harus menuntut ilmu, apapun ilmunya – tentu saja yang dibenarkan oleh syara’.
  • Fardu ‘ain hukum mempelajarinya ilmu yang diperlukan oleh setiap pribadi, dan fardu kifayah untuk ilmu yang diperlukan oleh suatu komunitas.

Ilmu-ilmu yg fardu ‘ain diketahui adalah :

1. Ilmu tentang ke-Esa-an Allah (keimanan), krn iman HARUS dg ilmu, tidak bisa taqlid

2. Ilmu yg berkaitan dg kewajiban kita kpd Allah; sholat, dll

3. Ilmu yg berkaitan dengan pekerjaan yg akan kita kerjakan

  • Lebih jelas lagi, wajib hukumnya mengetahui ilmu dari apa yang (wajib dan sedang) kita kerjakan.

Yang ingin saya tekankan adalah butir kedua dan ketiga. Point kedua berarti kita wajib ‘ain mempelajari ilmu, setidaknya, ilmu aktivitas harian yang kita lakukan. Setiap hari kita tidur, makan, shalat, bersuci, dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut wajib kita ketahui ilmunya, karena memang sangat logis bahwa setiap langkah kita harus disertai ilmu. Sangat bodoh, menurut logika, jika beramal tanpa ilmu karena itu sia-sia, atau bahkan bisa jadi berbahaya. Sebagai contoh, jika seseorang bereksperimen dengan uranium tanpa ilmu yang memadai, maka tunggulah saat kehancurannya. Ini tidak hanya sia-sia, tapi malah berbahaya baik bagi pribadi maupun orang lain.

Begitu juga dalam hal ibadah. Kaidah agama menyebutkan la ‘amala lima la ‘ilma lah, yang berarti tidak termasuk amal kebaikan jika tidak ada pengetahuan tentangnya, atau setidaknya mengetahui bahwa hal tersebut adalah ibadah. Sama artinya bahwa tidak termasuk ibadah tanpa berniat. Setiap kali makan adalah ibadah jika kita menyadari bahwa makan itu merupakan hak tubuh kita untuk memperoleh energi yang diperlukan untuk dapat melaksanakan ibadah kepada-Nya. Bahwa tubuh ini adalah amanah yang wajib kita pelihara, dan lain sebagainya. Sangat besar faidahnya menggosok gigi (bersiwak), hanya jika kita tahu bahwa itu adalah ibadah. Diantaranya adalah, selain untuk menjaga kesehatan, shalat didahului bersiwak adalah lima puluh kali lebih baik daripada tidak disertai bersiwak. Hal tersebut sebenarnya sudah dicontohkan oleh orang tua kita dulu, mereka bersiwak sebelum shalat – dan banyak aktivitas sunat lainnya. Namun sayangnya kita mengabaikannya, bahkan sebagian mem’fatwa’kannya bid’ah dlalalah, hanya karena kebodohan kita akan hal tersebut.

Fardu kifayah untuk hal yang bersifat perwakilan, dapat dilakukan oleh salah seorang diantara kita. Dalam shalat kita perlu pakaian sebagai syarat untuk menutup aurat, maka fardu kifayah hukumnya (bagi umat islam) untuk dapat membuat pakaian – lebih jauh lagi, mulai dari proses membuat benang sampai menjahitnya. Tidak setiap individu wajib bisa melakukannya, cukup beberapa orang saja.

(Disini lah pentingnya umat islam agar mempunyai pengetahuan tentang hal-hal duniawi; teknologi, politik, ekonomi, dll. yaitu untuk melakukan kewajiban kifayah, sehingga dapat meleburkan dosa jamaah. Toh ternyata umat islam sendiri tidak hidup dalam kegiatan ibadah saja, kita membaur dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi, dll dengan umat lain, sehingga wajib kifayah bagi kita untuk menguasai bidang tersebut)

Selain itu, point ketiga menambahkan dimensi waktu pada ketentuan yang ada. Singkat kata, sudah sewajarnya, kita wajib mengetahui ilmu dari setiap aktivitas yang wajib dan sedang kita lakukan. Kita tidak wajib mengetahui ilmu shalat dalam perjalanan, jika kita tidak sedang bepergian. Namun, wajib mengetahuinya jika kita sedang dalam perjalanan. Karena memang kapanpun dan dimanapun kewajiban shalat tetap berlaku. Maka berdosalah hukumnya jika bepergian (jauh) tanpa mengetahui ilmu shalat dalam perjalanan. Begitu juga dengan haji, tidak wajib mengetahui ilmunya sekarang, namun wajib ketika kita sedang (akan) berhaji. Jadi, semua rutinitas wajib – wudlu, shalat, bersuci, puasa, dll – wajib kita mengetahui ilmunya[1]. Sedia payung sebelum hujan, maka lebih baik dipelajari sekarang sebelum datang saatnya. Namun, berbahagialah bagi yang sedang mempelajarinya, karena salah satu keutamaan orang yang menuntut ilmu adalah dimaafkan dari apa-apa yang belum diketahuinya. Oleh karena itu, mari kita terus belajar menyempurnakan ibadah kita, mulai dari syarat dan rukunnya hingga nafilah-nafilah (sunat) nya.

Namun demikian, ini bukan berarti bahwa kita hanya perlu menuntut ilmu agama saja – mengingat banyak hal yang wajib merupakan amaliah ubudiah. Teringat pertanyaan teman saya, mengapa tidak belajar ilmu agama saja? Kita memang perlu (wajib) mengetahui ilmu agama, minimal apa yang telah diuraikan diatas. Disamping itu, kita perlu juga mensyukuri nikmat atas apa yang diberikan, termasuk nikmat akal dengan memanfaatkannya untuk bertafakur seoptimal mungkin. Kenapa tidak memfokuskan pada ilmu agama? Jawaban saya: kita perlu lebih banyak orang pintar yang shaleh dan orang shaleh yang pintar dalam rangka menegakkan syiar agama.

Inilah salah satu hal yang mendorong saya untuk mengingat apa yang telah dipelajari dahulu dan menuliskannya dalam artikel ini. Di suatu saat saya menyadari, ketika harus berkereta selama 15 jam, bahwa masih banyak orang yang tidak mengetahui hal ini. Masih banyak orang yang tidak shalat karena tidak mengerti ilmu tayamum dan shalat fi safar.

Lilin memang tidak seberapa terang, namun akan sangat terasa manfaatnya ketika hanya itulah satu-satunya yang kita punya dalam kegelapan. Tanpa berniat menggurui, hanya menyampaikan apa yang pernah diajarkan guru-guru saya. Mudah-mudahan ini menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua, yang menyinari kita di dalam kegelapan dan kesunyian kubur. Amiin.

Eindhoven, Jumat 6 November 2008

Al muta’allim,

M. Islahuddin

(Editor: Umar Faruq)


[1] Dalam istilah pesantren, biasa disebut ilmu tingkah – atau fiqh. Disamping itu, ada ilmu tauhid, tasawuf, alat, dll.

Re-thinking ! Seputar Pendidikan/Beasiswa

 

Anda sedang mencari beasiswa untuk melanjutkan studi? Keep fighting!!! Cari terus…. Sekedar berbagi pengalaman, berikut saya coba uraikan sedikit ‘cerita’.

Pre-planning

Pertama ada baiknya jika kita merenungkan kembali niat kita dan juga tanyakan kembali ke arah mana kita akan melangkah dan dimana kita akan bermuara. Ini penting, bahkan sangat penting sekali! Kenapa? Karena “Barangsiapa cemerlang di permulaan, cemerlang dia di sisa perjalanannya. Dan barangsiapa sukar di permulaan, sukarlah dia di sisa perjalanannya!”. Itulah apa yang dikatakan pepatah Arab yang disimak dari tausiah al mukarrom K.H. M. Syakur Chudlori [1], pimpinan Ponpes Muawanah Tasikmalaya, ketika mendorong ahli pengajian untuk selalu mempersiapkan masa depan putra-putrinya sedini dan sebaik mungkin. Sebenarnya hal tersebut secara tidak sadar telah kita ketahui sejak masih duduk di kursi sekolah dasar dengan melihat teman-teman sekelas kita. Kita dapati bahwa siswa yang sejak awal sudah bisa berprestasi, di Indonesia identik dengan ranking, maka selanjutnya orang-orang tersebut kembali masuk ranking –dengan nilai variansi yang kecil. Sementara siswa yang tidak ketinggalan, tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik sejak awal, maka begitulah seterusnya bahkan menimbulkan efek negatif dengan berprilaku ‘nakal’ sebagai demonstrasi natural untuk menarik perhatian guru dan untuk menunjukkan eksistensi mereka – pembahasan masalah ini dicukupkan sekian, perlu satu tulisan khusus untuk membahasnya. Hal ini berlaku bagi setiap orang ketika memasuki satu tahapan baru untuk selalu me-recheck setiap langkah yang ditempuh. Banyak atau mungkin kebanyakan orang berorientasi pada kesuksesan material dan karir yang memang merupakan ‘default’ kecenderungan setiap orang. Tapi mari kita renungkan kembali, itukah yang ‘benar-benar’ kita inginkan? Saya jawab tidak! Bukan itu! Hidup ini hanya sementara, ulama mengibaratkan hidup ini ibarat penjara atau pun pengembaraan. Kita diwajibkan ini dan itu, juga diharamkan ini dan itu. Disunatkan ini dan itu, dimakruhkan ini dan itu. Tidak lain sebagai ujian untuk menjadi ‘khairun naas’, manusia terbaik. Adakah yang berfikir itu ‘bulshiiiit’? Saya kira sebaliknya. Berapa banyak harta yang kita butuhkan? Berapa banyak makanan yang dapat kita makan? Berapa banyak kendaraan yang kita inginkan? Tidak banyak ! Kita hanya butuh seperlunya atau setidaknya sebanyak yang dapat kita tampung. Mengingat kita adalah makhluk (yang diciptakan) maka terbataslah kemampuan kita dan ingat! waktu kita dibatasi kematian! Maka jelaslah, bagi saya, jadilah yang terbaik dengan menjadi manusia yang paling bermanfaat dengan tetap berada di jalan-Nya, karena pasti  akan kembali kepada-Nya. Dan itu bukan berarti bahwa kita tidak boleh ingin kaya dan sukses berkarir, karena kita sedang membahas hal yang lebih fundamental. Mari sebut tahap ini sebagai pre-planning atau pra perencanaan.

Planning

Selanjutnya adalah planning, perencanaan. Saatnya kita menjabarkan apa yang telah kita tentukan sebelumnya di tahap pre-planning. Sangat penting untuk selalu memperhatikan minat dan bakat masing-masing kita, mengingat kita dianugerahi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Semua sama, satu sisi kita lebih dari yang lain, di sisi lain kurang. Tinggal pintar-pintarnya kita memahami dan memanfaatkannya.

Semua insan sama, dihadapan Tuhannya

Tiada yang membedakan diantara dirinya

Namun yang paling mulya, manusia disisi Allah

Adalah manusia  yang bertaqwa pada-Nya (Hawari)

Sekarang kita bisa merencanakan, bercita-cita untuk menjadi seseorang yang bermanfaat dengan berperan apakah sebagai akademisi, politisi, ulama, seniman, ekonom ataupun pedagang. Tidak ada pekerjaan yang hina selama tidak melanggar norma-norma yang berlaku apalagi jika dilakukan dengan niat ikhlas dalam rangka membantu sesama dan mencari nafkah yang halal.

Lebih jauh lagi, perlu direncanakan secara lebih detail berbasis waktu. Kapan harus mencapai apa? Serta bagaimana cara untuk mencapainya. Terkadang kita perlu mengambil jalan memutar untuk mencapai tujuan, dan perlu menyusun strategi sukses dengan mendefinisikan langkah demi langkah yang harus ditempuh.

Fokus & Konsisten

Go straight ahead!! Setelah mantap dengan (pre)planning, just do it!! Tetap fokus dan konsisten menjalaninya…. Terdengar sederhana dan mudah, namun kenyataannya terkadang, bagi sebagian orang, begitu sulit untuk tetap berada di jalan yang ‘benar’…. Ketika realita kehidupan menghadang, ketika tanggung jawab tertumpuk di pundak, ceritanya bisa berbeda. Namun, selalu ada jalan keluar. “Sungguh, setelah kesulitan ada kemudahan!” All we have to do is just keep fighting, and be focus! Ceuk urang Pasundan mah, “Mun kéyéng tangtu paréng” atau “Man jadda, wajada” menurut pepatah Arab – artinya “barangsiapa sungguh-sungguh, pasti berhasil”. Sing Keukeuh!

Tawakal, keep praying

Tidak setiap usaha pasti berhasil. Tidak semua pedagang bisa untung. Tidak semua siswa dapat memahami pelajaran. Meskipun segenap usaha telah dikerahka…

to be continued…

 



[1] Beliau aktif mengajar di IAIN SGD Bandung sebagai dosen senior bidang ilmu Falak, juga sebagai tim Hisab Ru’yat Jawa Barat, ketua Lajnah Falakiyah PWNU Jabar serta tim ahli Lajnah Falakiyah PBNU.

LEGALISASI AKTA LAHIR

Artikel ini membahas pengurusan akta lahir terutama untuk ke Belanda (berbeda di legalisasi akhirnya aja, klo mo ke Belanda ya ke kedubes Belanda, 2 kali).

Berikut kutipan dari artikel di web PPI Delft dan saya (Islah) tambahkan dengan tulisan hijau: http://ppidelft.net/index.php?option=com_content&task=view&id=23&Itemid=1

2. Apakah perlu membawa legalisasi/transkrip akte lahir?

Tergantung kota masing-masing, kadang masih perlu, kadang tidak. Contohnya, Eindhoven perlu sementara Enschede (Twente) tidak. Kalau tidak perlu, lanjut ke nomer 5. BTW, urusan akte berkaitan dengan pihak IND bukan universitas.


3. Bagaimana cara mengurus legalisasi akte lahir?

Ok, jadi kota anda mensyaratkan akte lahir. Pertama, akte lahir yg bisa digunakan adalah akte “baru” alias berumur paling lama 5 tahun. Kemungkinan besar akte lahir anda dikeluarkan puluhan tahun yang lalu, maka perlu diperbarui (kutipan).

Urusan perbaruan:

Hubungi catatan sipil tempat kelahiran anda, mereka akan menanyakan alasan anda (demi kepraktisan, alasan hilang sering digunakan). Mereka akan memberitahukan persyaratannya. Lama pengurusan mungkin sekitar 7-10 hari. Biaya 30rb.

Bila memakai alasan “hilang”, mungkin memerlukan surat keterangan “hilang” tersebut, pergi saja ke kantor polisi. Biasanya yang diperlukan di kantor polisi adalah Kartu keluarga dan KTP.


4. Bagaimana cara mengurus legalisasi penterjemahan akte lahir?

Bagus, anda sudah memperoleh kutipan akte lahir. Kalau mau mudah, hubungi agen penerjemah tersumpah. Hati-hati pilih agen. Agen di jalan Saharjo yang selama ini terpercaya, relative murah, dan pasti. Pertanggal 17 Juni 2008, tarifnya 1,2 juta(cat: tarif ke kedubes 2 x 369rb), khusus pelajar diskon 50rb, waktu pengurusan 8-10 hari kerja. Tempatnya, setelah Pasaraya Manggarai ke arah Pancoran, sekitar 200m di sebelah kiri jalan. Bagi anda yang diluar Jakarta, lebih murah lewat biro aja mengingat biaya transport dan living in Jkt.

Ediati Kamil
Jl. Dr. Saharjo No.39
Jakarta 12850
T. +62-21-830 6319

HP. 0813 81 81 58 02

Bila ingin mengurus sendiri:

(diambil dari Ilan Asqolani, http://groups.yahoo.com/group/stuned2005/message/309?l=1):

Abis memperbarui ke Dep Hukum and HAM (legalisasi dapat dilakukan jika specimen tanda tangan pejabat yang menandatangani akta anda sudah ada disana, untuk memastikan minta aja ke cat sipil dalam selembar kertas berisi nama, jabatan, alamat, contoh tanda tangan dan distempel) untuk legalisasi terus ke Deplu abis itu ke Dutch Embassy. baru deh ditranslate. hanya penterjemah tertentu yang diakui oleh Dutch Embassy yang bisa nerjemahin and yang paling gampang sih ya Saharjo tadi. abis itu untuk proses akhir balik lagi ke Dutch embassy (jadi dating ke Dutch Embassy 2 kali dengan masing2 kedatangan bayar Rp. 307.500,-(369.000 per 17 Juni 2008)). (proses di setiap tempat 2 hari kerja)

(diambil dari Tomi Haryadi, http://groups.yahoo.com/group/stuned2005/message/311?l=1):

Ternyata ngurus akte kelahiran itu gak terlalu rumit, asal bisa meluangkan waktu sedikit. Bagi yang sama sekali belum punya akte, bisa disiapkan :

1. Fotokopi ijazah SMA.
2. Fotokopi Kartu Keluarga,
3. Fotokopi KTP,
4. Fotokopi akte kenal lahir (kalo ada).

Trus bawa ke kelurahan minta surat pengantar ke catatan sipil (langsung jadi), trus ke catatan sipil wilayah masing2 (jakarta timur, barat, dsb…). Tunggu 1 atw 2 hari akte lgsng jadi. Jangan lupa minta kopian yang dilegalisir sekalian. Trus tinggal bawa ke depkeh (di sela2 jam istirahat aja) (prosesnya 2 hari kerja, bayar 10 rb lewat BNI), deplu, ke kedutaan, terjemahin (di saharjo 39 aja, 10 menit dari kedutaan belanda, naik metromini 620 jur Manggarai), dan ke kedutaan lagi. Emang keliatan repot, tapi kalo dicicil gak begitu terasa. Jauh lebih hemat urus sendiri.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.